Menawannya sang rembulan dalam kegelapan malam..... Akhirnya terengut mega malam
(Inginku mendekap erat, anganku terenyuh bayu)
Risau hati dan kecewa, rembulanku direnggut gelap
(Gelisah...galau..merana...Gegana,,aku ditinggal)
Inginku berlari sambil berteriak dan memarahi dia... Agar ia tidak merenggut rembulanku
(Namun, dia tetap digerogoti...Hilang)
Malang nasibku, Organ indraku tak menolong barang sedetik
(Asa itu kembali, ketika secercah cahaya tampakan keindahan)
Namun, aku temukan penolong... Angin,,ya angin dia bersihkan kotoran mega itu
(Sinarnya menerpa wajah yang merona merah di keremangan gelap)
Laraku bersemangat, gembira...Indahnya rembulan malam ku pandang lagi
(Indah...amat indah...tak bisa dilukiskan gemerlap keindahannya)
Sekali lagi, tatapanku nanar tanpa kedip
Angin penolongku terima kasih
(Usikan dan rayuan gelap ku tepis untuk menghilang dari pandangan...Syukurku tak kan pupus)
Wahai rembulan malamku...Inginku peluk dan milikimu seutuhnya,,,selamanya
(Ya tetaplah bersamaku...Onak-onak tak bisa pisahkan kita...Nafasku akan menemanimu)
Lantunan musik indah terdengar dari nyiur pesisir....Iringan deru ombak melengkapi keindahan orkestra alam
(Gerakan bumi tetap membuatku konstan...Karena engkau hadir bersamaku)
Gambaran wajahmu terlukis mewah di rembulan itu....Indah senyummu menghangatkan raga
(Impian pun beradu)
Sukmaku berujar untuk mendekapmu erat
(Paras indahmu tetap terukir)
Kala kau tersedan dan butuhkan hangatnya kasih
(Akanku dekap dan menyentuh auramu)
Lunglai langkahku bila kau menangis dan terluka
(Ragaku lemas, letih, lesu)
Akan ku dekap raga dan bayangmu
(Enggan beranjak dari nanarmu)
Raut mukamu yang bersedih, akan kembali berbinar karenaku
(Raga dan jiwaku siap melayanimu)
Aku bahagia milikimu...hai rembulan
(Aku bahagia milikimu, hai Monalisa)
Puisi Nikah
Maumere, 06 Juli 2018
(02.19 WITA)