Senin, 04 April 2022

 

SONGSONG ANGANMU 


Menatap keindahan surya yang mengintip malu di wetan

dengan Awan yang merekah kemerahan

Raga dibuai bayu yang sejuk

Ingin kembali ke dipan melanjutkan, Angan yang terjeda kokokan jago

 

Neraca angan dan realitas saling mengadu

Enggan untuk beranjak, namun Vitalitas memaksa untuk beranjak

aku Ingin terus bermimpi, Akan kenikmatan angan

Tetapi raga harus disiapkan untuk menatap keindahan surya di sana

Ingin ku berteriak, mengapa dia berpihak, tapi suaraku tak mencapai ujung

 

Flora tersenyum menyambut keindahan

bErsahutan membangunkan raga yang ingin merebah

Bangun anakku, sambutlah harimu dengan senyumanmu yang menawan

Raihlah mimpi yang tertunda

hIngga engkau tertawa lepas seperti dahulu

Yakinkanlah dirimu akan keajaiban,

dan bernazarlah untuk terus terbangun mengejar Anganmu

Nikmati setiap mili kehidupanmu, hIngga engkau merasa puas akan hidupmu sendiri 

Rabu, 23 Maret 2022

MERANTAU DI KELABBA MAJA

 

MERANTAU DI KELABBA MAJA

  • *        11 Maret 2022

Dana darurat yang disiapkan dan disimpan dari bulan Desember 2021 telah semakin menipis. Namun, secercah sinar mulai menampakkan jati dirinya. Tepat di hari ini saya dan keluarga kecil saya menerima kabar yang sangat membahagiakan. Kabar ini datang dari panitia seleksi CPNS Kanwil Kemenag NTT Tahun 2021. Kabar yang kami tunggu selama 3 bulan dengan nihil pemasukan dan besarnya pengeluaran. Penantian panjang akan sebuah kepastian pun akhirnya finish. Dengan tergopoh gapah persiapan penerimaan SK CPNS di Kupang pun harus dilakukan. Pemasukan tidak ada tetapi hal ini harus dilaksanakan dan harus terjadi. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, hal ini harus terjadi.

Dengan bermodalkan nekat dan memelas sedikit, akhirnya gadget pun menjadi pilihan terakhir. Menelfon mama kecil di Kupang untuk membelikan tiket pesawat dengan nota bon (yang tidak tahu kapan akan dilunaskan). Syukur bahwa mama kecil pun menyanggupinya dan membelikan tiket pesawat untuk terbang ke Kupang pada 14 Maret 2022.

 

  • *        14 Maret 2022

Setelah hiruk pikuk persiapan dan pamitan, baik yang masih hidup maupun yang telah tidur selamanya, tanggal keberangkatan ke Kupang pun tiba. Tak banyak orang yang tahu akan keberangkatan ini dan tak banyak pula yang mengantar, hanya mertua, ipar, orangtua, adik-adik, istri, dan anak yang melepaskan saya pergi untuk menerima SK sekaligus merantau di tempat yang belum saya ketahui, karena tempat penugasan dalam SK yang masih disembunyikan.

Anak saya terharu sekaligus senang karena ia bisa melihat burung besi secara langsung. Dia melihat dan mengamati proses burung besi untuk terbang, dari lepas landas hingga menghilang di kepulan awan yang membentang di langit Nian Sika Tana Alok. Langit saat itu sangat cerah dan keberangkatan yang tanpa gangguan hingga menjejalkan ban darat di Bandara Eltari Kupang, Kota Kasih.

Ketika keluar dari terminal kedatangan hawa panas Kabupaten Kupang pun menyapa dengan sangat panas. Peluh pun membasahi dahi yang kian mengkilat karena campuran Gatsby di uban. Dengan gaya santai, saya duduk dipinggiran Pick Up Zone menyedot sang 12 batang dalam-dalam dengan modal pinjam pemantik menunggu sepupu yang menjemput. Hingga 1 dari 12 batang itu usai dihisapan dan hembusan udara jemputan pun tiba.

 

  • *        16 maret 2022

Hari penerimaan SK pun telah tiba. Dari 600 pelamar yang menerima SK hanya 1,67% dari jumlah itu. Saya orang ke-8 yang datang dalam acara dimaksud. Datang dengan terburu-buru karena telah telat 5 menit. Baru mau jadi pegawai udah telat saja lu.. begitu celoteh batin saya. Sambil menunggu acara dimulai dan panita yang mengetuk mic berkali-kali dan menata meja berkali-kali saya pun diganggu dengan teguran demikian: “sebentar tolong dirigen lagu Indonesia Raya ya.” Dirigen ya barang biasa bagi saya, tapi lokus sekarang ini berbeda pak. Saya dirigen tingkat kantor kabupaten kalo tingkat provinsi begini wah perdana ni, di depan bos-bos lagi. Akhirnya, saya pun mengiyakan saja. Setelah selesai Dirigen dan kebetulan momen itu diabadikan paparazzi, maka tenarlah di medsos Tugas perdana (unggahan diri sendiri)… hahahahaha

Saat menerima SK pun tiba dengan langkah pasti saya menerima SK itu. Ketika dibuka dan dibaca saya bertugas di Kabupaten Sabu Raijua. Waohhh. Tempat baru. Tak ada teman saya di sana, kecuali Pak Kasubag TU Sarai, pak Adam Matingfani, SH; yang saya kenal.

Setelah menerima SK langsung browsing tentang Sabu Raijua, dan saya dapatkan objek wisata yang luar biasa di sana yakni, Kelabba Maja.

 

  • *        20 maret 2022

Perjalanan merantau pun dimulai tepa pukul 22.30 WITA dari Pelabuhan Tenau Kupang setelah membayar tiket Kapal seharga Rp250.000. Merantau ke tanah Kelabba Maja bersama KM. Cantika 9C. mungkin serinya ya. Menikmati laut yang bergelombang dan arus yang kuat. Mengantar asa ke tanah orang. Mengais rezeki di daerah orang, sekaligus melayani mereka yang membutuhkan pelayanan. Kebulatan tekad pun dibulatkan dan dibulatkan sempurna untuk melayani mereka yang butuh pelayanan. Tugas baru sebagai Penyuluh Agama Katolik, di tempat yang baru.

 

  • *        21 maret 2022

Perjalanan 10 jam akhirnya berujung di Dermaga Seba, tanah Sabu. Disambut oleh porter yang mencari rezeki dengan mengangkat koper penumpang dan terpaan teriknya matahari yang membakar kulit. Saya tiba di tanah ini. Menjejalkan kaki untuk pertama kalinya di tanah Sabu Raijua. Kisah di negeri orang pun dimulai pada saat ini. Nantikan kisah selanjutnya.


  • 25 maret 2022

Perjalanan pertama ke Stasi Yohanes Pemandi Eimau, dengan ketua stasi yang termuda kedua se-Keuskupan Agung Kupang, yakni Silvester G. Djo. Tiba ditempat itu saat para OMK dan beberapa orang tua sedang berlatih koor untuk pekan suci. Sambutan hangat dan ramah dihiasi ornament senyum yang manis, menawan, dan khas ala Sabu Tengah. Karena orang baru dengan muka baru, dipersilahkanlah saya untuk memperkenalkan diri. Selesai perkenalan, saya diberi nama baru oleh seorang bapa, Raimundus Seda, dengan sebutan Ma Mata. Dengan arti Menunggu. Saya dinilai sebagai seorang yang selalu dan senantiasa menunggu.


  • 27 Maret 2022

Perjalanan kedua ke stasi St. Petrus Bolou, Sabu Timur. Mengikuti perayaan Ekaristi Minggu Prapaskah IV, Minggu Sukacita (Letare). Di tempat ini saya berkenalan dengan pastor rekan Paroki St. Paulus Seba, Romo Yopi, Pr. Selain itu, saya juga berkenalan dengan seorang guru bahasa Indonesia yang berasal dari Bola Maumere beserta suaminya yang adalah orang Nuabosi, Ende. Perjalanan yang memakan waktu 30 menit berujung dengan menyambut tubuh dan darah Kristus. Umat Katolik di Kabupaten ini hanyalah minoritas tetapi mereka sangat kuat akan iman kepercayaan mereka sendiri. Tetap teguh dan bertahanlah dalam imanmu.


*        21 April 2022

Tepat sebulan saya berada di Kabupaten SaRai ini dan untuk pertama kalinya saya melakukan perjalan ke WISATA ALAM KELABBA MADJA. Menggagumi keindahan alam yang begitu menakjubkan. Lereng bukit yang dihiasi oleh tinta hijau dan merah yang sangat menarik untuk dipandang, walaupun melewatinya dengan gemetar, sedikit melompat, dan banyak merayapnya. Kagumi sekaligus tantangan namanya ini. Puas abadikan momen dengan Nikon hasil pinjaman ditambah skill edit foto yang ala kadar membuat semuanya menjadi sempurna. Bersyukurlah karena mata masih diizikan untuk melihat keindahan ciptanNya yang maha indah.

 

*        28 April 2022

Pertama kali melakukan meditasi dan sharing Kitab Suci bersama RD. Kanis Ati, Pastor Rekan Paroki St. Paulus Seba dan para senior Organisasi Pencak Silat Pendidikan THS-THM yang berada di paroki ini. Saat itu RD. Kanis meminta kami semua untuk membaca teks Injil Yohanes 1:1-11 (baru sadar saya tenyata 1 (satu)-nya 4x kembar). Saat membaca teks itu, saya terenyuh dengan ayat 8, yang bunyinya demikian: “Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.” Sumpah, saya kaget sekali, ayat ini benar-benar mengena pada saya. Saya sendiri kaget saat membacanya.

Ayat ini benar-benar menjadikan saya sebagai Yohanes yang datang ke Kabupaten Sabu Raijua untuk mewartakan tentang terang, yakni Yesus Kristus itu sendiri, karena tugas sebagai Penyuluh Agama Katolik di daerah ini. Saat itu saya sadar bahwa saya datang ke tempat ini bukan atas dasar memenuhi tuntuntan Surat Keputusan (SK) CPNS, tetapi saya sadar bahwa saya datang untuk mewartakan TERANG. TERANG ini harus saya wartakan dengan benar dan sebaik mungkin dalam kehidupan rohani dan sosial saya di tempat ini. Benar kata mereka bahwa menjadi suluh berarti harus membawa terang bagi sesama saya, yakni mahkluk hidup.

Tidaklah mudah menjalankan pekerjaan yang menuntut pikiran dan tingkah lakumu ini. Tetapi ketika engkau mendapat pencerahan dan mendapat kekuatan dari sebuah kelompok kecil saja, maka engkau bisa melaksanakannya.