MERANTAU DI KELABBA MAJA
11 Maret 2022
Dana darurat yang
disiapkan dan disimpan dari bulan Desember 2021 telah semakin menipis. Namun,
secercah sinar mulai menampakkan jati dirinya. Tepat di hari ini saya dan
keluarga kecil saya menerima kabar yang sangat membahagiakan. Kabar ini datang
dari panitia seleksi CPNS Kanwil Kemenag NTT Tahun 2021. Kabar yang kami tunggu
selama 3 bulan dengan nihil pemasukan dan besarnya pengeluaran. Penantian panjang
akan sebuah kepastian pun akhirnya finish. Dengan tergopoh gapah persiapan
penerimaan SK CPNS di Kupang pun harus dilakukan. Pemasukan tidak ada tetapi
hal ini harus dilaksanakan dan harus terjadi. Mau tidak mau, suka atau tidak
suka, hal ini harus terjadi.
Dengan bermodalkan
nekat dan memelas sedikit, akhirnya gadget pun menjadi pilihan terakhir. Menelfon
mama kecil di Kupang untuk membelikan tiket pesawat dengan nota bon (yang tidak
tahu kapan akan dilunaskan). Syukur bahwa mama kecil pun menyanggupinya dan
membelikan tiket pesawat untuk terbang ke Kupang pada 14 Maret 2022.
14 Maret 2022
Setelah hiruk pikuk
persiapan dan pamitan, baik yang masih hidup maupun yang telah tidur selamanya,
tanggal keberangkatan ke Kupang pun tiba. Tak banyak orang yang tahu akan
keberangkatan ini dan tak banyak pula yang mengantar, hanya mertua, ipar,
orangtua, adik-adik, istri, dan anak yang melepaskan saya pergi untuk menerima
SK sekaligus merantau di tempat yang belum saya ketahui, karena tempat
penugasan dalam SK yang masih disembunyikan.
Anak saya terharu
sekaligus senang karena ia bisa melihat burung besi secara langsung. Dia
melihat dan mengamati proses burung besi untuk terbang, dari lepas landas
hingga menghilang di kepulan awan yang membentang di langit Nian Sika Tana Alok.
Langit saat itu sangat cerah dan keberangkatan yang tanpa gangguan hingga
menjejalkan ban darat di Bandara Eltari Kupang, Kota Kasih.
Ketika keluar dari
terminal kedatangan hawa panas Kabupaten Kupang pun menyapa dengan sangat
panas. Peluh pun membasahi dahi yang kian mengkilat karena campuran Gatsby di
uban. Dengan gaya santai, saya duduk dipinggiran Pick Up Zone menyedot sang 12 batang dalam-dalam dengan modal pinjam
pemantik menunggu sepupu yang menjemput. Hingga 1 dari 12 batang itu usai
dihisapan dan hembusan udara jemputan pun tiba.
16 maret 2022
Hari penerimaan SK pun
telah tiba. Dari 600 pelamar yang menerima SK hanya 1,67% dari jumlah itu. Saya
orang ke-8 yang datang dalam acara dimaksud. Datang dengan terburu-buru karena
telah telat 5 menit. Baru mau jadi pegawai udah telat saja lu.. begitu celoteh
batin saya. Sambil menunggu acara dimulai dan panita yang mengetuk mic
berkali-kali dan menata meja berkali-kali saya pun diganggu dengan teguran
demikian: “sebentar tolong dirigen lagu Indonesia Raya ya.” Dirigen ya barang
biasa bagi saya, tapi lokus sekarang ini berbeda pak. Saya dirigen tingkat
kantor kabupaten kalo tingkat provinsi begini wah perdana ni, di depan bos-bos
lagi. Akhirnya, saya pun mengiyakan saja. Setelah selesai Dirigen dan kebetulan
momen itu diabadikan paparazzi, maka tenarlah di medsos Tugas perdana (unggahan
diri sendiri)… hahahahaha
Saat menerima SK pun
tiba dengan langkah pasti saya menerima SK itu. Ketika dibuka dan dibaca saya
bertugas di Kabupaten Sabu Raijua. Waohhh. Tempat baru. Tak ada teman saya di
sana, kecuali Pak Kasubag TU Sarai, pak Adam Matingfani, SH; yang saya kenal.
Setelah menerima SK
langsung browsing tentang Sabu Raijua, dan saya dapatkan objek wisata yang luar
biasa di sana yakni, Kelabba Maja.
20 maret 2022
Perjalanan merantau pun
dimulai tepa pukul 22.30 WITA dari Pelabuhan Tenau Kupang setelah membayar
tiket Kapal seharga Rp250.000. Merantau ke tanah Kelabba Maja bersama KM.
Cantika 9C. mungkin serinya ya. Menikmati laut yang bergelombang dan arus yang
kuat. Mengantar asa ke tanah orang. Mengais rezeki di daerah orang, sekaligus
melayani mereka yang membutuhkan pelayanan. Kebulatan tekad pun dibulatkan dan
dibulatkan sempurna untuk melayani mereka yang butuh pelayanan. Tugas baru
sebagai Penyuluh Agama Katolik, di tempat yang baru.
21 maret 2022
Perjalanan 10 jam akhirnya berujung di Dermaga Seba, tanah Sabu. Disambut oleh porter yang mencari rezeki dengan mengangkat koper penumpang dan terpaan teriknya matahari yang membakar kulit. Saya tiba di tanah ini. Menjejalkan kaki untuk pertama kalinya di tanah Sabu Raijua. Kisah di negeri orang pun dimulai pada saat ini. Nantikan kisah selanjutnya.
- 25 maret 2022
Perjalanan pertama ke Stasi Yohanes Pemandi Eimau, dengan ketua stasi yang termuda kedua se-Keuskupan Agung Kupang, yakni Silvester G. Djo. Tiba ditempat itu saat para OMK dan beberapa orang tua sedang berlatih koor untuk pekan suci. Sambutan hangat dan ramah dihiasi ornament senyum yang manis, menawan, dan khas ala Sabu Tengah. Karena orang baru dengan muka baru, dipersilahkanlah saya untuk memperkenalkan diri. Selesai perkenalan, saya diberi nama baru oleh seorang bapa, Raimundus Seda, dengan sebutan Ma Mata. Dengan arti Menunggu. Saya dinilai sebagai seorang yang selalu dan senantiasa menunggu.
- 27 Maret 2022
Perjalanan kedua ke
stasi St. Petrus Bolou, Sabu Timur. Mengikuti perayaan Ekaristi Minggu
Prapaskah IV, Minggu Sukacita (Letare). Di tempat ini saya berkenalan dengan
pastor rekan Paroki St. Paulus Seba, Romo Yopi, Pr. Selain itu, saya juga
berkenalan dengan seorang guru bahasa Indonesia yang berasal dari Bola Maumere
beserta suaminya yang adalah orang Nuabosi, Ende. Perjalanan yang memakan waktu
30 menit berujung dengan menyambut tubuh dan darah Kristus. Umat Katolik di
Kabupaten ini hanyalah minoritas tetapi mereka sangat kuat akan iman
kepercayaan mereka sendiri. Tetap teguh dan bertahanlah dalam imanmu.
21 April 2022
Tepat sebulan saya berada di Kabupaten SaRai ini dan untuk pertama kalinya saya melakukan
perjalan ke WISATA ALAM KELABBA MADJA. Menggagumi keindahan alam yang begitu
menakjubkan. Lereng bukit yang dihiasi oleh tinta hijau dan merah yang sangat
menarik untuk dipandang, walaupun melewatinya dengan gemetar, sedikit melompat,
dan banyak merayapnya. Kagumi sekaligus tantangan namanya ini. Puas abadikan
momen dengan Nikon hasil pinjaman ditambah skill edit foto yang ala kadar
membuat semuanya menjadi sempurna. Bersyukurlah karena mata masih diizikan
untuk melihat keindahan ciptanNya yang maha indah.
28 April 2022
Pertama kali melakukan
meditasi dan sharing Kitab Suci bersama RD. Kanis Ati, Pastor Rekan Paroki St.
Paulus Seba dan para senior Organisasi Pencak Silat Pendidikan THS-THM yang
berada di paroki ini. Saat itu RD. Kanis meminta kami semua untuk membaca teks
Injil Yohanes 1:1-11 (baru sadar saya tenyata 1 (satu)-nya 4x kembar). Saat membaca
teks itu, saya terenyuh dengan ayat 8, yang bunyinya demikian: “Ia bukan terang
itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.” Sumpah, saya kaget
sekali, ayat ini benar-benar mengena pada saya. Saya sendiri kaget saat
membacanya.
Ayat ini benar-benar
menjadikan saya sebagai Yohanes yang datang ke Kabupaten Sabu Raijua untuk
mewartakan tentang terang, yakni Yesus Kristus itu sendiri, karena tugas
sebagai Penyuluh Agama Katolik di daerah ini. Saat itu saya sadar bahwa saya
datang ke tempat ini bukan atas dasar memenuhi tuntuntan Surat Keputusan (SK)
CPNS, tetapi saya sadar bahwa saya datang untuk mewartakan TERANG. TERANG ini
harus saya wartakan dengan benar dan sebaik mungkin dalam kehidupan rohani dan
sosial saya di tempat ini. Benar kata mereka bahwa menjadi suluh berarti harus
membawa terang bagi sesama saya, yakni mahkluk hidup.
Tidaklah mudah
menjalankan pekerjaan yang menuntut pikiran dan tingkah lakumu ini. Tetapi ketika
engkau mendapat pencerahan dan mendapat kekuatan dari sebuah kelompok kecil
saja, maka engkau bisa melaksanakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar