Dalam
satu dekade – menurut www.detik.com
terhitung dari 2005-2015 dan ditambah dua kasus terakhir yang baru-baru ioni
terjadi, yakni jatuhnya pesawat milik Polri di Kepri dan pesawat Hercules milik
TNI yang jatuh di Wamena – sudah tercatat terdapat 28 kasus kecelakaan
transportasi udara yang menelan 550 korban tewas untuk korban jenis pesawat
komersial dan 335 korban tewas untuk korban jenis pesawat/helikopter milik
TNI/Polri.
Semua
kasus kecelakaan pesawat dapat dikatakan disebabkan oleh beberapa faktor,
yakni: 1) Pilot Error; 2) Human Error; 3) Weather; 4) Mechanical
Failure; and 5) Sabotage. Kelima faktor
berdasarkan data yang diunggah oleh www.wordpress.com.
Dan berdasarkan data ini wordpress menyimpulkan bahwa kecelakaan pesawat lebih
disebabkan oleh Pilot Erorr yakni
54%. Sedangkan faktor Mechanical Failure mengikuti
di posisi berikutnya dengan
presentase 24%. Lalu, faktor Human Error,
Weather dan Sabotage masing-masing
pada tingkatan 5%, 8% dan 9%.
Dengan
data di atas maka dapat disimpulkan bahwa kecelakaan pesawat selama satu dekade
ini lebih diakibatkan pada faktor Pilot
Erorr. Faktor ini dapat dikatakan juga sebagai Human Erorr (HE) dalam arti yang lebih spesifik, yakni dalam artian
HE di dalam profesi Pilot.
Lalu
apa itu HE? George A. Peters, seorang produser dan master of ceremony
menyebutkan bahwa HE merupakan suatu
kesalahan dari pekerjaan yang disebabkan oleh terjadinya ketidaksesuaian antara
pencapaian dengan harapan. Hal ini dapat dibenarkan dengan contoh berikut:
seorang Pilot pada saat take off dari suatu bandara (port) mengharapkan agar ia
bisa mendaratkan pesawat yang ia kemudikan dengan baik. Namun yang terjadi
malah sebaliknya, sang Pilot mendaratkan pesawatnya dengan buruk bahkan. Pendaratan
yang buruk ini disebabkan oleh roda pesawat yang aus sehingga pesawat slip dan
akhirnya tergelincir
Dilihat
dari contoh di atas maka dapat dikatakan dnegan pasti bahwa HE tidak bisa
dihindarkan. HE hanya dapat dinetralisir dan diminimalisir sedemekian mungkin
agar kecelakaan pesawat dapat dikurangi bahkan menghilang.
HE Penyebab Terbesar
Menurut
data yang dipaparkan sebelumnya, prosentase HE yang disebabkan oleh Pilot Erorr dan HE lainnya maka level prentasenya mencapai
59%. Presentase ini melebihi setengah level lebih tinggi dari prosentase
penyebab kecelakaan transportasi udara lainnya. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa, kecelakaan transportasi udara lebih banyak diakibatkan oleh
HE.
Sedangkan
menurut Payne dan Altman, HE adalah sebuah kegagalan konteks human information processing dimana eror
dibagi atas: input, process dan output.
Mereka berdua pun berpendapat bahwa terjadinya HE lebih disebabkan oleh
kesalahan dalam konteks perancangan sistem.
Pendapat
Payne dan Altman bila disandingkan dengan pendapat George A. Peters maka
keduanya memiliki kesamaan. Kesamaan pendapat mereka berada pada perancangan. Hanya
penrancangan Menurut George dibahasakan dengan rencana.
Lalu apa yang
mendasari terjadinya HE dalam tranportasi udara? HE dalam dunia dirgantara
lebih difokuskan pada “kemanjaan” para penerbang pada teknologi. Teknologi mengakibatkan
para pilot yang seharusnya menjadi opertor sistem menjadi pengamat monitor
sistem (memonitor sistem) dengan mengaktifkan fasilitas teknologi, seperti auto
pilot. Dengan demikian, secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa teknologi
autopilot bukan hanya sedikit memanjakan para penerbang atau memudahkan
pekerjaan mereka melainkan para penerbang justru dienakkan dan dimanjakan.
Teknologi auto
pilot tidak dapat disalahkan sepenuhnya dalam kasus kecelakaan pesawat. Teknologi
auto pilot bertujuan untuk mengurangi ketegangan dan kelelahan pada saat
mengendalikan pesawat dan bekerja selama waktu yang panjang dan lama dalam
penerbangan. Hal ini baik dan benar juga namnun tingkat kewaspadaan dan
ketelitian pilot sebagai operator sistem tidak bisa dipertahankan.
Regenerasi Transportasi Udara
Masalah
HE pasti akan terjadi dalam diri setiap manusia di setiap rentang usia. HE pun
tidak dapat disalahkan sepenuhnya jika terjadi kesalahan atau bahkan kecelakaan
fatal. Ada benarnya juga berdiskursu mengenai HE di dunia pernerbangan namun
tidak bisa dibenarkan apabila semua kecelakaan udara disebabkan oleh HE para
pilot atau mekanis semata.
Pada
awal risalah analitis ini, telah dipaparkan bahwa kasus kecelakaan yang terjadi
dalam transportasi udara telah terindentifikasi dan disebabkan oleh beberapa
faktor. Dan faktor HE hanya satu diantaranya. Faktor yang harus dilihat juga
adalah usia dari transportasi udara atau alusista itu sendiri. Selain dari usia
perawatannya pun harus dilaksanakan secara berkala dan rutin.
Usia
pesawat / alusista juga merupakan faktor kuat terjadinya kecelakaan alat angkut
udara ini di wilayah Indonesia. - Mungkin bisa kita katakan juga bahwa hal ini
disebabkan juga oleh HE para pemelihara -. Pesawat yang telah dimakan usia
sebaiknya digantikan dengan ‘barang baru’ dan yang telah ‘dimakan rayap’
sebaiknya dimuseumkan atau dihanggarkan saja dari pada membahayakn nyawa banyak
orang.
Lalu
siapakah yang harus mengurus museumkan atau menghanggarkan alat transportasi
udara ini? Apakah para pilot dan kopilot serta awak pesawat yang lain? Ataukah pihak
manajemen dan pemerintah? Atau mungkin para pengamat transportasi udara?
Semua
pertanyaan ini hanya dapat dijawab ketika bercermin di depan benggala sambil
mengingat dan mendoakan para korban pesawat yang jatuh. Dan sebaiknya, alat
angkut transportasi udara – baik yang komersil ataupun militer – harus diperhatikan
dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar