Senin, 19 Desember 2016

REGENERASI TRANSPORTASI UDARA



            Dalam satu dekade – menurut www.detik.com terhitung dari 2005-2015 dan ditambah dua kasus terakhir yang baru-baru ioni terjadi, yakni jatuhnya pesawat milik Polri di Kepri dan pesawat Hercules milik TNI yang jatuh di Wamena – sudah tercatat terdapat 28 kasus kecelakaan transportasi udara yang menelan 550 korban tewas untuk korban jenis pesawat komersial dan 335 korban tewas untuk korban jenis pesawat/helikopter milik TNI/Polri.
            Semua kasus kecelakaan pesawat dapat dikatakan disebabkan oleh beberapa faktor, yakni: 1) Pilot Error; 2) Human Error; 3) Weather; 4) Mechanical Failure; and 5) Sabotage. Kelima faktor berdasarkan data yang diunggah oleh www.wordpress.com. Dan berdasarkan data ini wordpress menyimpulkan bahwa kecelakaan pesawat lebih disebabkan oleh Pilot Erorr yakni 54%. Sedangkan faktor Mechanical Failure mengikuti di posisi berikutnya dengan presentase 24%. Lalu, faktor Human Error, Weather dan Sabotage masing-masing pada tingkatan 5%, 8% dan 9%.
            Dengan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa kecelakaan pesawat selama satu dekade ini lebih diakibatkan pada faktor Pilot Erorr. Faktor ini dapat dikatakan juga sebagai Human Erorr (HE) dalam arti yang lebih spesifik, yakni dalam artian HE di dalam profesi Pilot.
            Lalu apa itu HE? George A. Peters, seorang produser dan master of ceremony menyebutkan bahwa HE merupakan suatu kesalahan dari pekerjaan yang disebabkan oleh terjadinya ketidaksesuaian antara pencapaian dengan harapan. Hal ini dapat dibenarkan dengan contoh berikut: seorang Pilot pada saat take off dari suatu bandara (port) mengharapkan agar ia bisa mendaratkan pesawat yang ia kemudikan dengan baik. Namun yang terjadi malah sebaliknya, sang Pilot mendaratkan pesawatnya dengan buruk bahkan. Pendaratan yang buruk ini disebabkan oleh roda pesawat yang aus sehingga pesawat slip dan akhirnya tergelincir
            Dilihat dari contoh di atas maka dapat dikatakan dnegan pasti bahwa HE tidak bisa dihindarkan. HE hanya dapat dinetralisir dan diminimalisir sedemekian mungkin agar kecelakaan pesawat dapat dikurangi bahkan menghilang.

HE Penyebab Terbesar
            Menurut data yang dipaparkan sebelumnya, prosentase HE yang disebabkan oleh Pilot Erorr  dan HE lainnya maka level prentasenya mencapai 59%. Presentase ini melebihi setengah level lebih tinggi dari prosentase penyebab kecelakaan transportasi udara lainnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa, kecelakaan transportasi udara lebih banyak diakibatkan oleh HE.
            Sedangkan menurut Payne dan Altman, HE adalah sebuah kegagalan konteks human information processing dimana eror dibagi atas: input, process dan output. Mereka berdua pun berpendapat bahwa terjadinya HE lebih disebabkan oleh kesalahan dalam konteks perancangan sistem.
            Pendapat Payne dan Altman bila disandingkan dengan pendapat George A. Peters maka keduanya memiliki kesamaan. Kesamaan pendapat mereka berada pada perancangan. Hanya penrancangan Menurut George dibahasakan dengan rencana.
Lalu apa yang mendasari terjadinya HE dalam tranportasi udara? HE dalam dunia dirgantara lebih difokuskan pada “kemanjaan” para penerbang pada teknologi. Teknologi mengakibatkan para pilot yang seharusnya menjadi opertor sistem menjadi pengamat monitor sistem (memonitor sistem) dengan mengaktifkan fasilitas teknologi, seperti auto pilot. Dengan demikian, secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa teknologi autopilot bukan hanya sedikit memanjakan para penerbang atau memudahkan pekerjaan mereka melainkan para penerbang justru dienakkan dan dimanjakan.
Teknologi auto pilot tidak dapat disalahkan sepenuhnya dalam kasus kecelakaan pesawat. Teknologi auto pilot bertujuan untuk mengurangi ketegangan dan kelelahan pada saat mengendalikan pesawat dan bekerja selama waktu yang panjang dan lama dalam penerbangan. Hal ini baik dan benar juga namnun tingkat kewaspadaan dan ketelitian pilot sebagai operator sistem tidak bisa dipertahankan.

Regenerasi Transportasi Udara
            Masalah HE pasti akan terjadi dalam diri setiap manusia di setiap rentang usia. HE pun tidak dapat disalahkan sepenuhnya jika terjadi kesalahan atau bahkan kecelakaan fatal. Ada benarnya juga berdiskursu mengenai HE di dunia pernerbangan namun tidak bisa dibenarkan apabila semua kecelakaan udara disebabkan oleh HE para pilot atau mekanis semata.
            Pada awal risalah analitis ini, telah dipaparkan bahwa kasus kecelakaan yang terjadi dalam transportasi udara telah terindentifikasi dan disebabkan oleh beberapa faktor. Dan faktor HE hanya satu diantaranya. Faktor yang harus dilihat juga adalah usia dari transportasi udara atau alusista itu sendiri. Selain dari usia perawatannya pun harus dilaksanakan secara berkala dan rutin.
            Usia pesawat / alusista juga merupakan faktor kuat terjadinya kecelakaan alat angkut udara ini di wilayah Indonesia. - Mungkin bisa kita katakan juga bahwa hal ini disebabkan juga oleh HE para pemelihara -. Pesawat yang telah dimakan usia sebaiknya digantikan dengan ‘barang baru’ dan yang telah ‘dimakan rayap’ sebaiknya dimuseumkan atau dihanggarkan saja dari pada membahayakn nyawa banyak orang.
            Lalu siapakah yang harus mengurus museumkan atau menghanggarkan alat transportasi udara ini? Apakah para pilot dan kopilot serta awak pesawat yang lain? Ataukah pihak manajemen dan pemerintah? Atau mungkin para pengamat transportasi udara?

            Semua pertanyaan ini hanya dapat dijawab ketika bercermin di depan benggala sambil mengingat dan mendoakan para korban pesawat yang jatuh. Dan sebaiknya, alat angkut transportasi udara – baik yang komersil ataupun militer – harus diperhatikan dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar